Idulfitri dan Nyepi

Idulfitri dan Nyepi

Setiap Lebaran, rumah-rumah di kampung biasanya berubah menjadi ruang pertemuan kecil. Saudara yang lama tidak bertemu datang satu per satu. Ruang tamu mendadak ramai. Cerita masa kecil muncul lagi, diselingi tawa yang kadang terlalu keras untuk sebuah pagi Idulfitri.

Namun setelah beberapa saat, percakapan sering bergerak ke arah yang lebih serius.

“Sekarang kerja di mana?”
“Sudah beli rumah belum?”
“Kapan nikah?”

Pertanyaan seperti itu sebenarnya bukan hal yang aneh. Banyak yang bertanya dengan niat baik. Kadang sekadar ingin tahu kabar. Kadang juga karena merasa sudah lama tidak bertemu.

Namun tanpa terasa, ruang keluarga kadang berubah seperti ruang laporan pencapaian hidup.

Ada yang dengan bangga bercerita tentang pekerjaan baru. Ada yang menunjukkan foto rumah yang baru dibeli. Ada yang bercerita tentang usaha yang mulai berkembang.

Sebagian orang tersenyum sambil mengangguk.

Sebagian lainnya hanya menjawab seperlunya.

Tidak semua orang pulang dengan cerita kemenangan.

Ada juga yang sedang mengalami kekalahan di perantauan.

Ada yang pulang hanya untuk memeluk orang tua atau hanya aroma kenangannya saja. Sekadar duduk di kursi ruang tamu yang sama seperti sepuluh atau dua puluh tahun lalu.

Ada juga yang pulang dengan langkah pelan menuju pemakaman desa.

Perjalanan jauh dari kota kadang hanya berakhir di depan sebuah nisan. Di sana, sebagian orang berbicara dalam diam. Mengadukan kerasnya kehidupan kepada orang yang dulu paling mengerti, tetapi kini sudah berada di alam yang berbeda.
Tidak semua cerita hidup mudah dibagikan kepada dunia.

Kadang manusia hanya ingin pulang sebentar.

Sebagian lainnya pulang sambil membawa kelelahan yang tidak terlihat. Wajah tetap tenang, percakapan tetap ringan, tetapi di dalam hati ada banyak hal yang masih bergolak.

Kehidupan kota memang sering bergerak terlalu cepat. Orang bekerja, mengejar target, bertahan dari tekanan ekonomi, dan berusaha tetap terlihat baik-baik saja.
Mudik menjadi satu-satunya jeda.

Menariknya, tahun 2026 menghadirkan momen yang jarang terjadi. Saat Ramadan hampir berakhir dan umat Islam bersiap menyambut Idulfitri, Bali justru memasuki Hari Raya Nyepi.
Pada Kamis, 19 Maret 2026, seluruh pulau memilih diam.

Tidak ada kendaraan di jalan. Tidak ada aktivitas di luar rumah. Lampu dipadamkan. Bandara ditutup. Pulau yang biasanya hidup oleh wisata tiba-tiba menjadi sangat sunyi.

Keheningan menjadi ibadah.

Ramadan sebenarnya juga mengajarkan hal yang mirip. Selama sebulan penuh manusia dilatih menahan diri. Bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan keinginan yang sering terlalu bising dalam diri.

Namun menjelang Idulfitri, pelajaran itu kadang tertutup oleh keramaian.

Orang sibuk membeli pakaian baru. Tiket mudik habis dalam hitungan menit.
Jalanan macet berjam-jam. Semua orang ingin pulang.

Barangkali di sinilah dua tradisi itu terasa menarik untuk direnungkan bersama.
Nyepi mengajarkan manusia untuk menyepi.

Idulfitri mengajarkan manusia untuk kembali.

Di antara keduanya, ada satu pelajaran kecil yang sering terlupakan.

Manusia kadang perlu menepi sejenak.
Menepi dari hiruk-pikuk kehidupan. Menepi dari perbandingan pencapaian hidup yang sering membuat hati terasa sempit. Menepi dari keinginan untuk selalu terlihat berhasil di mata orang lain.
Tidak ada salahnya, sesekali kita belajar dari keheningan itu.

Sebelum kembali ke dunia yang ramai setelah Lebaran, mungkin ada baiknya kita mengambil sedikit waktu untuk duduk lebih tenang.

Mendengar suara hati sendiri.

Sebab pada akhirnya, setelah semua percakapan keluarga selesai, setelah semua cerita pencapaian hidup reda, manusia tetap akan kembali pada satu hal yang paling sederhana.
Dirinya sendiri.

— eFHa