Suatu sore di sebuah ruang pelatihan kerja, saya berbincang dengan seorang pemuda yang baru lulus sekolah menengah. Usianya sekitar dua puluh tahun. Wajahnya masih menyimpan campuran antara optimisme dan kebingungan, dua perasaan yang sering muncul bersamaan pada usia seperti itu.
Ketika saya bertanya apa rencananya ke depan, ia tidak menjawab dengan daftar panjang mimpi atau rencana besar. Ia hanya berkata sederhana, “Saya ingin bisa kerja saja dulu, Pak.”
Jawaban itu terdengar biasa. Namun jika dipikirkan lebih lama, kalimat pendek itu sebenarnya memuat kegelisahan yang sangat besar. Ia mewakili jutaan anak muda Indonesia yang keluar dari gerbang sekolah setiap tahun sambil membawa satu pertanyaan yang sama: ke mana sebenarnya jalan menuju masa depan itu?
Di ruang kelas mereka belajar banyak hal. Rumus matematika, teori ekonomi, sejarah peradaban dunia, bahkan kadang cara membuat karya ilmiah yang cukup tebal. Ketika dunia kerja menyambut mereka, pertanyaan yang muncul justru jauh lebih sederhana.
Apa yang bisa kamu kerjakan?
Pertanyaan itu tampak ringan, tetapi sering membuat banyak orang terdiam beberapa detik lebih lama dari yang direncanakan.
Badan Pusat Statistik mencatat tingkat pengangguran terbuka Indonesia masih berada di kisaran lima persen dari total angkatan kerja. Angka itu terlihat kecil ketika ditulis dalam laporan ekonomi.
Wajah manusia di balik angka tersebut sering tidak terlihat. Lima persen berarti jutaan orang yang sedang mencari tempat untuk bekerja, atau setidaknya mencari kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya mampu bekerja.
Sebagian dari mereka bukan tidak mau bekerja. Sebagian hanya belum memiliki keterampilan yang benar-benar dibutuhkan oleh dunia kerja.
Di titik inilah pelatihan kerja menemukan maknanya.
Pelatihan kerja sering dipahami sekadar sebagai kursus tambahan. Gambaran seperti itu terlalu sederhana. Pelatihan kerja sebenarnya adalah jembatan. Jembatan yang menghubungkan dunia pendidikan yang penuh teori dengan dunia kerja yang membutuhkan keterampilan nyata.
Di ruang pelatihan, seseorang belajar hal-hal yang sering dianggap kecil tetapi justru sangat menentukan. Cara menggunakan alat dengan benar. Cara berkomunikasi dengan pelanggan. Cara bekerja dalam tim yang kadang tidak selalu sepakat.
Keterampilan seperti itu jarang diajarkan secara serius di sekolah, padahal dunia kerja hampir seluruhnya bergerak di wilayah tersebut.
Menariknya, negara-negara maju justru menjadikan pendidikan vokasi sebagai fondasi ekonominya. Jerman, misalnya, memiliki sistem pendidikan ganda yang cukup terkenal. Para siswa belajar di kelas sekaligus bekerja langsung di industri. Mereka memahami dunia kerja bahkan sebelum benar-benar bekerja.
Akibatnya sederhana. Lulusan mereka jarang menganggur.
Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar melakukan hal yang sama. Negara ini sedang memasuki masa yang sering disebut bonus demografi. Jumlah penduduk usia produktif akan sangat besar dalam dua dekade ke depan. Bappenas bahkan menyebut periode ini sebagai peluang strategis bagi pembangunan ekonomi nasional.
Peluang seperti itu sering disebut sebagai bonus emas. Gambaran tersebut memang terdengar optimistis. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa bonus demografi selalu memiliki dua wajah.
Jika anak muda memiliki keterampilan, bonus itu dapat berubah menjadi kekuatan ekonomi yang luar biasa. Tanpa keterampilan yang memadai, bonus demografi berisiko berubah menjadi bonus pengangguran.
Pertanyaan sederhana muncul dari situasi ini. Apakah pendidikan kita benar-benar menyiapkan manusia untuk bekerja, atau hanya menyiapkan manusia untuk lulus ujian?
Pertanyaan itu mungkin terdengar sedikit nakal. Kehidupan sering membutuhkan pertanyaan seperti itu agar kita tidak terlalu cepat merasa puas.
Di berbagai kota mulai muncul lembaga pelatihan kerja dengan beragam spesialisasi. Ada yang mengajarkan bahasa asing, ada yang melatih keterampilan teknis, ada pula yang mempersiapkan tenaga kerja untuk industri tertentu. Beberapa lembaga bahkan menyiapkan anak-anak muda untuk bekerja di luar negeri.
Ruang pelatihan seperti itu sebenarnya tempat yang menarik untuk mengamati masa depan bangsa dari jarak dekat. Anak-anak muda datang dengan latar belakang yang berbeda. Sebagian percaya diri. Sebagian masih ragu. Sebagian lagi datang karena dorongan orang tua yang berharap anaknya segera menemukan jalan hidupnya.
Satu hal hampir selalu sama. Harapan selalu ikut datang bersama mereka.
Pelatihan kerja juga mengajarkan sesuatu yang sering tidak ditemukan di buku pelajaran. Seseorang belajar mencoba, gagal, mencoba lagi, lalu perlahan mulai berhasil. Mesin yang pertama kali dicoba mungkin tidak berjalan. Program komputer yang ditulis mungkin penuh kesalahan. Percakapan bahasa asing sering terdengar terbata-bata.
Proses itu terlihat sederhana. Dari situlah tumbuh sesuatu yang sangat berharga: kepercayaan diri.
Orang yang memiliki keterampilan biasanya memiliki cara berdiri yang berbeda. Ia tidak terlalu khawatir menghadapi perubahan dunia kerja yang bergerak cepat. Ia tahu dirinya memiliki kemampuan untuk beradaptasi.
Bangsa yang kuat tidak hanya dibangun oleh para pemikir. Ia juga dibangun oleh para pekerja yang teliti, teknisi yang terampil, operator yang cekatan, serta jutaan orang yang bekerja dengan kesungguhan setiap hari.
Mereka mungkin tidak muncul di halaman depan surat kabar. Kehidupan bangsa sebenarnya bergerak karena kerja mereka.
Ketika orang berbicara tentang Indonesia Emas, bayangan yang muncul sering berupa gedung tinggi, teknologi canggih, atau ekonomi yang tumbuh pesat. Semua itu tentu penting. Ada fondasi yang jauh lebih mendasar dari semua gambaran tersebut.
Manusia yang terampil.
Manusia yang percaya diri.
Manusia yang tahu bahwa dirinya mampu memberi manfaat.
Di ruang-ruang pelatihan kerja yang sederhana itu, masa depan bangsa sering tumbuh tanpa banyak sorotan. Tidak ada panggung besar. Tidak ada pidato panjang. Tidak ada kamera televisi.
Anak-anak muda hanya sedang belajar bekerja.
Kadang masa depan sebuah bangsa memang dimulai dari hal-hal yang tampak sederhana seperti itu.
— eFHa
