Beberapa bulan terakhir, obrolan saya agak berubah.
Biasanya soal analisis media, tentang vokasi, atau sekadar keluhan hidup.
Sekarang beda. Tiga teman saya, dalam waktu yang berbeda tentunya, tiba-tiba sibuk mengurus izin tambang emas. Ada yang lewat PT, ada yang menggandeng investor asing, bahkan ada yang mencoba jalur koperasi, katanya sekarang pemerintah membuka ruang ke sana.
Saya sempat tertawa.
Bukan meremehkan. Tapi merasa hidup ini cepat sekali berubah. Dulu kami sibuk berdebat tentang tata kelola negara.
Sekarang ada yang sibuk cari emas.
Salah satu dari mereka sempat bilang santai, “Emas itu produksinya tetap. Supply-nya nggak banyak berubah. Yang bikin harga naik turun itu demand.”
Lalu ia tambah, setengah berbisik seperti rahasia besar:
“Biaya produksi emas murni itu sekitar 800 ribuan per gram. Tapi dijual bisa tiga juta.”
Saya diam sebentar.
Lalu paham.
Yang mahal ternyata bukan emasnya.
Yang mahal adalah rasa takut manusia.
Data memang tidak bohong. Di awal 2026, harga emas dunia sempat menyentuh rekor tinggi, bahkan lebih dari 5.000 dolar per ons, sebelum sedikit terkoreksi di Maret.
Trading Economics Indonesia
Di Indonesia, harga emas Antam sempat berada di kisaran Rp3 juta per gram di awal Maret 2026, lalu turun tipis ke sekitar Rp2,98 juta per gram pada 17 Maret 2026.
Sejak akhir 2025, tren emas memang naik cukup tajam, didorong oleh ketidakpastian global, inflasi, dan konflik geopolitik.
Bahasanya sederhana:
dunia lagi tidak baik-baik saja.
Para manusia sedang mencari rasa aman.
Tidak ada yang salah dengan itu.
Masalahnya muncul ketika rasa aman itu hanya dicari di luar diri.
Orang ramai membeli emas.
Namun diam-diam, banyak yang kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting.
Harga diri.
Kalau mau jujur, bagi banyak laki-laki, harga diri itu sederhana.
Bukan mobil mewah.
Bukan jabatan tinggi.
Cukup satu:
punya penghasilan.
Meski kecil.
Meski belum stabil.
Selama masih bisa memberi, masih bisa berdiri dengan keringat sendiri, di situlah harga diri terasa utuh.
Namun di zaman sekarang, banyak yang mulai goyah di titik itu.
Bukan karena malas.
Tapi karena arah hidup tidak selalu jelas.
Data BPS menunjukkan pengangguran di Indonesia masih jutaan orang. Yang menarik, tidak sedikit berasal dari lulusan sekolah dan kampus. Artinya, masalahnya bukan sekadar “tidak mau kerja”.
Masalahnya:
tidak tahu harus jadi apa.
Di titik ini, kontrasnya terasa aneh.
Di satu sisi, orang berlomba menyimpan emas karena takut masa depan.
Di sisi lain, banyak orang belum benar-benar menyiapkan dirinya untuk masa depan itu.
Kita rajin membuka grafik harga emas.
Tapi jarang membuka peta hidup sendiri.
Kita takut uang habis.
Tapi tidak takut kemampuan stagnan.
Ada yang punya emas beberapa gram, tapi masih bingung mau jadi apa lima tahun ke depan.
Ada yang sibuk investasi, tapi tidak pernah investasi ke dirinya sendiri.
Padahal dunia hari ini tidak lagi bertanya:
“Apa yang kamu punya?”
Dunia bertanya:
“Apa yang bisa kamu lakukan?”
Di sinilah letak hal yang sering tidak disadari.
Emas tidak bekerja.
Manusia yang bekerja.
Emas hanya diam di brankas.
Nilainya naik karena dunia gelisah.
Manusia yang terus belajar, terus berkembang, justru naik karena dirinya sendiri.
Itu bedanya.
Satu bergantung pada situasi.
Satu lagi membentuk situasi.
Mungkin itu sebabnya negara maju tidak hanya sibuk menimbun cadangan emas. Mereka sibuk membangun manusia.
Pendidikan diperkuat, pelatihan diperluas, keterampilan diasah.
Mereka paham satu hal sederhana:
Krisis boleh datang kapan saja.
Namun manusia yang kompeten akan selalu menemukan jalan.
Indonesia sebenarnya punya peluang besar. Bonus demografi sering disebut sebagai “emas masa depan”.
Sayangnya, kita terlalu sibuk mengejar emas yang bisa dibeli, dan kurang serius membangun “emas” yang tidak terlihat.
Yaitu manusia itu sendiri.
Pada akhirnya, ada satu pertanyaan yang mungkin tidak nyaman, tapi jujur:
Kalau semua hilang,
emas habis, uang habis, peluang hilang…
kita masih bisa jadi apa?
Jawaban dari pertanyaan itu tidak ada di grafik.
Tidak ada di brankas.
Adanya di dalam diri.
Menurut saya, di situlah letak kekayaan yang sebenarnya.
— eFHa
