Ada orang yang datang ke makam membawa bunga. Ada yang membawa air mawar. Ada yang membawa doa yang dulu diajarkan sejak kecil, meski masih terbata. Ada pula yang datang dengan tangan kosong, tetapi dadanya penuh.
Barangkali memang begitu wajah paling jujur dari sebuah kuburan: manusia datang dengan cara masing-masing, tetapi membawa pengakuan yang sama, bahwa hidup, sehebat apa pun ia ditulis di kalender, pada akhirnya pulang juga ke tanah.
Di titik itu, pertanyaan sederhana sering muncul. Menabur bunga di atas kuburan itu bagaimana hukumnya? Sebagian orang menganggapnya sekadar adat. Sebagian lagi melihatnya sebagai bentuk penghormatan. Ada pula yang menolaknya karena merasa tidak ada dalilnya.
Seperti banyak hal dalam hidup, jawabannya tidak selalu berdiri di satu sisi. Ia punya jejak hadis, punya bacaan ulama, juga punya ruang tafsir yang tidak harus diselesaikan dengan saling menyalahkan.
Dalam hadis sahih, Nabi Muhammad saw. pernah melewati dua kuburan, lalu menyampaikan bahwa keduanya sedang diazab. Beliau kemudian meminta pelepah kurma yang masih basah, membelahnya, dan meletakkannya di atas dua kuburan tersebut. Beliau berharap, selama pelepah itu belum kering, azab keduanya diringankan.
Dari peristiwa itu, sebagian ulama membaca makna pada sesuatu yang masih hidup; yang masih basah, yang belum kering. Dalam tradisi mazhab Syafi’i, seperti yang dijelaskan dalam Fathul Mu’in, hal ini kemudian dipahami sebagai isyarat bahwa sesuatu yang segar itu masih bertasbih, dan tasbih itulah yang diharapkan membawa keringanan bagi mayit. Dari sini pula lahir qiyas: bunga atau daun segar dipandang memiliki makna simbolik yang serupa.
Namun tidak semua ulama membaca dengan cara yang sama. Ada yang memandang itu sebagai kekhususan Nabi, bukan amalan umum. Maka perbedaan itu tetap hidup, dan barangkali memang seharusnya begitu.
Di titik ini, kita seperti diingatkan bahwa tidak semua perbedaan perlu diselesaikan dengan suara keras. Ada hal-hal yang memang dibiarkan lapang, agar manusia belajar saling menghormati, bukan saling menghakimi.
Menariknya, jika kita melangkah sedikit keluar dari tradisi kita, banyak kebudayaan juga memandang kuburan bukan sekadar tempat jasad. Dalam feng shui, misalnya, makam dipercaya memiliki keterkaitan dengan harmoni hidup keturunannya. Letak, arah, dan kondisi makam dianggap berpengaruh pada keseimbangan energi keluarga yang masih hidup.
Di dunia modern, muncul pula gagasan seperti law of attraction: bahwa apa yang kita pikirkan, rasakan, dan yakini bisa membentuk realitas kita. Sebagian orang lalu menghubungkannya dengan simbol-simbol: bahwa merawat sesuatu, termasuk makam, adalah cara menjaga “keterhubungan energi”.
Apakah semua itu harus dipercaya? Tidak selalu. Tetapi menarik untuk melihat satu benang merahnya: manusia, di mana pun ia berada, selalu berusaha memahami bahwa hidup ini tidak sepenuhnya terputus; bahwa ada keterhubungan yang tidak selalu kasatmata.
Dalam Islam, keterhubungan itu tidak dijelaskan dengan bahasa “energi semesta”, tetapi dengan sesuatu yang lebih tenang: doa, rahmat, dan barakah.
Kita diajarkan mengucapkan salam kepada penghuni kubur; assalamu’alaikum ya ahlal qubur. Salam yang sama seperti kepada orang hidup.
Seolah-olah kita sedang berkata: kami tahu kalian telah pergi, tetapi kami tidak datang sebagai orang asing.
Al-Qur’an bahkan mengingatkan bahwa kematian bukanlah akhir dalam arti yang kita bayangkan. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 154 dan Ali ‘Imran ayat 169, disebutkan bahwa mereka yang gugur di jalan Allah itu tidak mati, tetapi hidup di sisi Tuhan mereka, meski kita tidak menyadarinya.
Ayat itu tidak sedang menjelaskan “energi” seperti dalam teori modern, tetapi ia membuka satu kesadaran: bahwa hidup tidak berhenti pada apa yang terlihat oleh mata.
Mungkin di situlah letak titik temunya.
Bahwa bunga yang kita taburkan bukan sekadar bunga. Ia bisa menjadi simbol.
Bisa menjadi bahasa yang tidak sempat kita ucapkan. Bisa menjadi cara sederhana manusia untuk tetap merasa terhubung dengan mereka yang telah pergi.
Seorang anak yang berdiri di depan makam ibunya, misalnya, tidak sedang memikirkan perdebatan fikih atau teori energi. Ia hanya merasa tangannya terlalu kosong untuk pulang tanpa meninggalkan apa-apa.
Maka ia taburkan bunga.
Bukan karena yakin bunga itu menyelesaikan segalanya, tetapi karena manusia memang sering butuh cara untuk menyampaikan rasa yang tidak selesai.
Namun agama selalu mengingatkan pelan-pelan: jangan sampai simbol menggantikan inti.
Yang sampai bukan bunga. Yang hidup bukan daun. Yang bertahan bukan wangi.
Yang benar-benar sampai adalah doa.
Yang mengalir adalah amal.
Yang menetap adalah kebaikan yang pernah kita lakukan, dan doa yang terus dipanjatkan oleh mereka yang masih hidup.
Kadang kita datang ke makam membawa bunga, tetapi lupa membawa perubahan. Kita menabur mawar dengan tangan, tetapi tidak menabur istighfar di dalam hati. Kita merapikan nisan, tetapi tidak sempat merapikan hidup sendiri.
Padahal tanah yang diam itu sering lebih jujur daripada kita.
Ia tidak berbicara, tetapi seolah berbisik: cepat atau lambat, kamu juga akan sampai di sini.
Di titik itu, perdebatan tentang bunga menjadi terasa kecil.
Kalau mengikuti pendapat yang membolehkan, lakukan dengan adab.
Kalau mengikuti yang tidak, jalani dengan lapang. Yang jangan hilang adalah doa, ziarah yang khusyuk, dan kesadaran bahwa yang dibutuhkan oleh mereka yang telah pergi bukanlah hiasan, melainkan kiriman rahmat.
Karena pada akhirnya, bunga akan layu. Daun akan kering. Air mawar akan menguap.
Yang bertahan hanyalah apa yang benar-benar naik dari hati.
Mungkin itu sebabnya kuburan selalu terasa sunyi, tetapi tidak pernah benar-benar kosong. Di sana, manusia belajar satu hal yang sering terlupakan dalam hidup yang sibuk: cara menjadi rendah hati.
Maka, jika suatu hari Anda datang ke makam orang tua, taburkan bunga jika itu membuat hati Anda lebih lembut dan tidak bertentangan dengan keyakinan Anda.
Namun jangan berhenti di sana.
Tambahkan doa. Tambahkan Al-Fatihah. Tambahkan diam yang jujur. Tambahkan juga satu tekad kecil untuk pulang sebagai manusia yang sedikit lebih baik.
Sebab bisa jadi, yang sedang dihidupkan oleh ziarah itu bukan mereka yang di bawah tanah; melainkan kita yang masih berjalan di atasnya.
