Di televisi, orang-orang sedang berbicara tentang rudal Iran, serangan udara Israel, dan kemungkinan konflik besar di Timur Tengah. Analisis geopolitik muncul di mana-mana. Ada peta militer, ada grafik kekuatan senjata, ada prediksi perang yang katanya bisa berlangsung berminggu-minggu.
Di terminal bus, topiknya jauh lebih sederhana.
“Tiket mudik masih ada nggak?”
Kadang dunia memang terasa aneh. Sebagian manusia sibuk menghitung jarak tembak rudal. Sebagian lagi hanya menghitung berapa jam lagi sampai rumah orang tua.
Beberapa minggu terakhir, konflik Iran dengan Israel dan Amerika semakin memanas. Serangan udara besar dimulai pada akhir Februari 2026 ketika Israel dan Amerika melancarkan serangan militer terhadap target di Iran.
Balasan datang dengan cepat. Rudal dan drone meluncur ke berbagai wilayah, pangkalan militer diserang, jalur pelayaran di Selat Hormuz terganggu, bahkan harga minyak dunia ikut melonjak karena ketegangan itu.
Bagi sebagian orang, berita seperti itu terasa jauh. Timur Tengah ada ribuan kilometer dari sini. Hidup di Indonesia tetap berjalan seperti biasa.
Jalan tol tetap macet.
Stasiun tetap penuh.
Terminal tetap riuh.
Musim mudik datang lagi.
Setiap tahun, jutaan orang Indonesia melakukan perjalanan pulang. Tradisi ini begitu unik sampai sering membuat orang luar negeri heran. Ada yang naik mobil berjam-jam, ada yang berdiri di kereta, ada pula yang rela menabung setahun hanya agar bisa pulang beberapa hari.
Jika dilihat dari logika ekonomi, perjalanan itu sering terasa tidak efisien.
Jika dilihat dari logika hati, perjalanan itu sangat masuk akal.
Mudik bukan sekadar perjalanan.
Mudik adalah kebutuhan emosional manusia.
Orang pulang bukan karena rumahnya mewah. Banyak rumah di kampung justru sederhana. Kadang atapnya masih seng, kadang dindingnya sudah retak dimakan usia.
Namun rumah itu menyimpan sesuatu yang tidak bisa dibeli di kota.
Orang tua.
Itulah sebenarnya tujuan perjalanan itu.
Di tengah dunia yang gaduh oleh perang, politik, dan konflik kekuasaan, manusia tetap menyimpan kerinduan yang sama sejak ribuan tahun lalu: pulang.
Sejarah dunia sering digambarkan dengan bahasa yang megah. Ada perebutan wilayah, ada strategi militer, ada permainan geopolitik yang rumit. Para analis menyebutnya keseimbangan kekuatan, stabilitas kawasan, atau dinamika global.
Bahasa itu terdengar serius.
Realitas manusia sebenarnya lebih sederhana.
Orang hanya ingin hidup tenang bersama keluarganya.
Perang selalu menghancurkan keinginan sederhana itu.
Di banyak wilayah konflik, orang tidak mudik. Mereka justru mengungsi. Kota ditinggalkan, rumah menjadi puing, keluarga tercerai-berai. Dunia internasional menyebutnya krisis kemanusiaan.
Istilah itu terdengar dingin.
Maknanya sangat sederhana: seseorang kehilangan rumahnya.
Kontras itu terasa ketika melihat tradisi mudik di Indonesia. Jutaan orang bergerak menuju rumah masing-masing. Jalanan padat, kendaraan merayap, anak-anak tertidur di bahu ayahnya.
Sebagian orang mengeluh macet.
Sebagian lagi sebenarnya sedang menikmati perjalanan pulang.
Lucunya, drama mudik sering terasa seperti olahraga nasional. Ada yang salah keluar tol, ada yang lupa membawa tiket, ada pula yang baru sadar bensin hampir habis di tengah antrean kendaraan.
Semua kekacauan kecil itu sering berakhir dengan satu kalimat yang sama.
“Yang penting sampai rumah.”
Rumah di sini jarang berarti bangunan. Rumah hampir selalu berarti orang tua.
Banyak orang baru menyadari hal itu ketika usia bertambah. Kota memberi banyak hal: pekerjaan, kesempatan, dan mimpi. Namun kota sering mengambil satu hal yang sangat mahal: waktu bersama keluarga.
Mudik Lebaran menjadi semacam pengingat tahunan.
Masih ada rumah yang menunggu.
Masih ada ibu yang memasak.
Masih ada ayah yang duduk di ruang tamu sambil bertanya, “Perjalanan lancar?”
Tidak semua orang memiliki kesempatan itu selamanya.
Ada yang suatu tahun pulang dengan gembira. Tahun berikutnya pulang dengan suasana berbeda. Kursi yang sama masih ada. Foto keluarga masih tergantung di dinding. Namun orang yang dulu membuka pintu sudah tidak lagi menunggu.
Kesadaran seperti itu sering datang terlambat.
Dunia boleh saja sibuk dengan konflik global. Rudal bisa terbang ribuan kilometer. Strategi militer bisa dibahas berjam-jam di ruang rapat para pemimpin dunia.
Manusia tetap memiliki kebutuhan yang sama sejak dulu.
Rumah.
Di tengah berita perang dan ketegangan dunia, mungkin ada pelajaran kecil yang bisa kita ambil.
Sebagian orang di dunia kehilangan rumah karena perang.
Sebagian orang kehilangan rumah karena waktu.
Perbedaan keduanya hanya satu.
Yang pertama datang dengan ledakan.
Yang kedua datang dengan pelan.
Itulah sebabnya jutaan orang tetap mudik setiap Lebaran. Mereka melewati kemacetan, antrean panjang, dan perjalanan melelahkan hanya untuk satu hal sederhana.
Pulang.
— eFHa
