Serangan Bangsa yang Bertahan

Serangan Bangsa yang Bertahan

Di layar televisi, orang-orang sedang berbicara tentang perang. Ada peta Timur Tengah yang dipenuhi garis-garis merah. Ada analisis tentang rudal, pangkalan militer, dan kemungkinan eskalasi konflik yang katanya bisa menyeret banyak negara. Nama Iran kembali disebut berkali-kali, seperti tokoh lama yang tidak pernah benar-benar keluar dari panggung sejarah.

Namun jika kita membayangkan Iran hanya sebagai negara yang sedang berperang, gambaran itu terasa terlalu sempit. Di balik berita-berita militer itu ada kehidupan biasa yang tetap berjalan.

Ada orang yang pulang kerja, ada pedagang yang membuka toko, ada keluarga yang duduk bersama di ruang tamu sambil mendengar berita yang sama.

Bangsa Persia sudah terlalu lama hidup dalam bayang-bayang krisis untuk merasa asing dengan suasana seperti itu.

Sejak revolusi 1979, Iran berkali-kali menghadapi tekanan internasional. Sanksi ekonomi datang silih berganti, menekan sektor minyak, perbankan, hingga perdagangan luar negeri. Tekanan itu tidak pernah ringan. Inflasi melonjak, nilai mata uang tertekan, dan ekonomi nasional harus berjalan dengan banyak keterbatasan.

Namun yang menarik dari Iran bukan sekadar kesulitannya. Yang menarik justru cara mereka bertahan.

Ada bangsa yang runtuh ketika ekonomi diguncang. Ada pula bangsa yang perlahan menyesuaikan diri. Iran tampaknya memilih jalan kedua. Mereka belajar hidup dengan tekanan, mencari jalur perdagangan alternatif, membangun industri dalam negeri, dan mencoba berdiri dengan kemampuan sendiri.

Hidup di bawah embargo memang bukan kondisi yang nyaman. Namun bagi bangsa yang memiliki sejarah panjang, tekanan sering dianggap sebagai bagian dari perjalanan.

Iran bukan negara yang muncul kemarin sore. Wilayah Persia pernah menjadi pusat peradaban besar jauh sebelum banyak negara modern berdiri.

Kekaisaran-kekaisaran Persia pernah menguasai wilayah luas di Asia Barat, membangun tradisi politik, sastra, dan kebudayaan yang bertahan berabad-abad.

Sejarah panjang seperti itu sering melahirkan sesuatu yang tidak terlihat di statistik ekonomi: kepercayaan diri peradaban.

Bangsa yang merasa dirinya memiliki akar sejarah biasanya lebih sulit merasa kecil.

Iran juga pernah ditempa oleh perang panjang melawan Irak pada dekade 1980-an. Delapan tahun konflik berdarah meninggalkan luka yang dalam. Banyak kota rusak, banyak keluarga kehilangan anggota keluarganya.

Namun perang itu juga membentuk generasi yang terbiasa hidup dalam tekanan.

Mungkin karena itulah, setiap kali dunia memprediksi Iran akan runtuh akibat sanksi, negara itu justru tetap berdiri. Tidak selalu makmur, tidak selalu stabil, tetapi tetap ada.

Di balik semua analisis geopolitik yang rumit, ada satu hal yang sering luput diperhatikan: bangsa yang mampu bertahan biasanya memiliki cerita besar tentang dirinya sendiri.

Cerita itu bisa berupa sejarah, keyakinan, atau pengalaman kolektif yang terus diceritakan dari generasi ke generasi.

Bangsa Persia memiliki banyak cerita seperti itu. Tentang peradaban kuno, tentang puisi Hafez yang dibacakan di rumah-rumah, tentang tragedi Karbala yang melahirkan ingatan kesedihan kolektif, dan tentang keyakinan bahwa mereka adalah bangsa yang tidak mudah ditundukkan.

Cerita-cerita itu bukan sekadar nostalgia. Ia menjadi semacam bahan bakar mental bagi sebuah bangsa.

Jika diperhatikan lebih jauh, banyak bangsa di dunia sebenarnya lahir dari pengalaman serupa.

Indonesia pun pernah mengalaminya.
Yang menyatukan bangsa ini dahulu bukan kemakmuran, melainkan penderitaan bersama. Penjajahan yang panjang membuat berbagai suku dan daerah merasa memiliki nasib yang sama. Dari kesedihan kolektif itulah lahir keinginan untuk merdeka.

Sejarah sering menunjukkan bahwa penderitaan dapat berubah menjadi perekat.

Namun bentuk kesedihan selalu berubah mengikuti zaman.

Hari ini mungkin kita tidak lagi menghadapi penjajahan dalam arti lama. Namun banyak orang merasakan tekanan lain yang tidak kalah berat: biaya hidup yang semakin mahal, pekerjaan yang tidak selalu pasti, serta kehidupan kota yang membuat manusia semakin jauh dari keluarganya sendiri.

Di tengah perubahan seperti itu, satu tradisi tetap bertahan di Indonesia.
Mudik.

Setiap tahun menjelang Lebaran, jutaan orang melakukan perjalanan pulang. Jalan tol dipenuhi kendaraan, terminal penuh sesak, dan stasiun kereta menjadi lautan manusia yang membawa tas besar dan kardus oleh-oleh.

Jika dilihat dari logika ekonomi, perjalanan itu sering terasa tidak efisien. Tiket mahal, perjalanan melelahkan, dan kemacetan hampir tidak terhindarkan.

Namun jika dilihat dari logika manusia, perjalanan itu sangat masuk akal.

Orang pulang bukan hanya karena rumahnya ada di sana.

Orang pulang karena orang tuanya ada di sana.

Di tengah dunia yang penuh konflik, embargo, dan perang, manusia tetap memiliki kebutuhan yang sama sejak dahulu: kembali ke tempat yang membuatnya merasa diterima.

Perang sering membuat orang kehilangan rumah.

Mudik adalah cara manusia menjaga agar rumah itu tetap ada.

Barangkali di situlah pelajaran kecil dari semua cerita besar tentang perang dan geopolitik. Di balik strategi militer dan permainan kekuasaan antarnegara, kehidupan manusia sebenarnya jauh lebih sederhana.

Bangsa Persia bertahan karena mereka memiliki cerita panjang tentang siapa mereka.

Bangsa Indonesia mungkin bertahan karena kita masih memiliki tempat untuk pulang.

Selama masih ada rumah yang menunggu, selama masih ada orang tua yang membuka pintu, dunia yang penuh konflik itu terasa sedikit lebih ringan.

Karena pada akhirnya, manusia selalu kembali pada satu keinginan yang sama.
Pulang.

โ€” eFHa