Di negeri ini, perdebatan mazhab kadang lebih cepat panas daripada minyak goreng. Belum selesai satu tegukan teh, obrolan bisa berubah jadi sidang kecil: ini Sunni, itu Syiah, ini NU, itu Muhammadiyah. Seolah-olah setiap peristiwa di dunia wajib ditimbang dengan label terlebih dahulu.
Sementara itu, di belahan dunia lain, bom jatuh tanpa sempat bertanya keyakinan siapa yang akan jadi korban.
Kontras itu terasa ketika nama Iran kembali ramai dibicarakan. Televisi menampilkan peta serangan, analis bicara tentang kekuatan militer, media sosial penuh opini yang kadang lebih emosional daripada informatif. Sebagian sibuk menentukan siapa yang benar, sebagian lain sibuk memastikan siapa yang harus dibenci.
Padahal, ada sesuatu yang jauh lebih mendasar yang sering terlewat.
Bukan semua peristiwa harus dijawab dengan perdebatan. Ada momen ketika manusia cukup hadir sebagai manusia.
Mayoritas umat Islam Indonesia sebenarnya sudah menunjukkan arah yang tenang. PBNU, misalnya, tidak mengeluarkan seruan kemarahan, melainkan mengajak membaca Qunut Nazilah sebagai respon atas agresi. Sikap itu sederhana, tetapi dalam: ketika ada kezaliman, umat diajak kembali pada doa, pada empati, pada kesadaran bahwa ada nyawa yang terancam. Gus Yahya bahkan menyebut situasi ini sebagai kegagalan tata dunia yang seharusnya menjaga perdamaian.
Nada yang hampir serupa datang dari Muhammadiyah. Syafiq Mughni menegaskan bahwa perbedaan mazhab tidak boleh mematikan solidaritas kemanusiaan. Boleh berbeda dalam keyakinan, tetapi tidak boleh kehilangan kepekaan terhadap penderitaan. Bahkan dalam berbagai forum internasional, ia menyaksikan ulama Sunni dan Syiah duduk bersama, bukan untuk menyamakan semuanya, melainkan untuk mencegah umat terus terpecah.
MUI pun tidak mengambil jalur panas. Nada yang muncul justru menenangkan: umat diminta tidak terprovokasi isu sektarian, tetap berpijak pada prinsip kedaulatan dan keadilan. Kalimatnya terdengar sederhana, nyaris datar, tetapi di situlah letak kekuatannya, ia menjadi semacam pagar agar emosi tidak melampaui akal sehat.
Meski begitu, di sudut hati yang jujur, ada ruang kecil yang mungkin bertanya.
Bukan soal siapa yang lebih keras bersuara, bukan pula soal siapa yang paling cepat mengucapkan duka. Ada harapan yang diam-diam muncul, bahwa negeri ini, dengan segala pengalaman sejarahnya, mampu menunjukkan sikap yang sedikit lebih tegas. Bukan sekadar pernyataan normatif, melainkan isyarat bahwa kita benar-benar hadir sebagai bangsa yang mengerti arti kedaulatan dan keadilan, bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga di panggung dunia.
Barangkali harapan itu terlalu tinggi. Atau mungkin memang kita masih belajar menempatkan diri di antara idealisme dan diplomasi.
Dari titik itu, terlihat satu benang merah yang jarang disadari: para tokoh tidak sedang mengaburkan perbedaan, tetapi juga tidak membiarkan perbedaan menjadi alasan untuk kehilangan kemanusiaan.
Sikap seperti ini terasa sangat Indonesia, yakni: tidak selalu lantang, tidak selalu dramatis, tetapi berusaha tetap waras di tengah dunia yang sering kehilangan arah.
Kita tetap Sunni. Tetap Aswaja. Tetap memiliki batas yang jelas dalam akidah. Tidak semua bisa disamakan, tidak semua bisa dilebur. Itu bagian dari kejujuran intelektual dan spiritual.
Namun ada satu hal yang tidak boleh ikut dikaburkan.
Empati.
Sejarah ulama besar Aswaja sejak dulu tidak pernah memisahkan antara ketegasan akidah dan kelembutan hati.
Mereka bisa berbeda dalam i’tiqad, tetapi tetap berdiri bersama ketika ada kezaliman. Mereka paham bahwa membela manusia yang tertindas bukan berarti mengubah keyakinan, melainkan menjaga nilai yang diajarkan oleh keyakinan itu sendiri.
Di titik ini, Iran menjadi menarik untuk dilihat secara jernih.
Ia bukan sekadar negara Syiah. Ia adalah bangsa dengan sejarah panjang, bangsa yang ditempa perang, sanksi, dan tekanan global selama puluhan tahun.
Banyak negara akan runtuh lebih cepat dalam situasi serupa. Iran tetap bertahan, dengan segala kompleksitasnya.
Ketahanan itu bukan hanya soal senjata.
Ada mentalitas di sana.
Ada ingatan sejarah.
Ada harga diri yang tidak mudah ditukar.
Sebagian orang mungkin tidak sepakat dengan sistemnya. Itu wajar. Kritik tetap perlu. Namun menutup mata terhadap daya tahan dan keberanian sebuah bangsa juga bukan sikap yang adil.
Kita pernah berada di posisi yang tidak jauh berbeda.
Indonesia tidak merdeka karena semua orang sepakat dalam segala hal. Justru sebaliknya, kita merdeka di tengah perbedaan yang nyata. Yang menyatukan bukan keseragaman, melainkan satu kesadaran: tidak ingin hidup diinjak.
Mungkin di situlah letak pelajaran yang sering terlewat.
Persatuan tidak selalu lahir dari kesamaan. Ia sering tumbuh dari luka yang sama, dari rasa yang sama, dari keinginan yang sama untuk tetap berdiri sebagai manusia yang bermartabat.
Unggahan yang Anda kirimkan memperlihatkan dua wajah yang berbeda.
Satu mengajak merapat, menurunkan ego kelompok, dan melihat umat sebagai satu kesatuan. Satu lagi mengangkat keberanian Iran dengan nada yang lebih emosional, bahkan heroik. Keduanya punya titik temu yang jarang disadari: sama-sama tidak ingin umat menjadi penonton yang pasif.
Saya memilih jalan yang lebih tenang.
Tidak terburu memuji.
Tidak tergesa membenci.
Tidak mudah terseret emosi.
Namun juga tidak diam ketika kemanusiaan dilukai.
Sebab pada akhirnya, ukuran paling jujur dari keberagamaan bukan seberapa keras kita membela kelompok sendiri, melainkan seberapa luas kita mampu menjaga nilai kemanusiaan.
Perbedaan mazhab akan selalu ada. Itu bagian dari sejarah umat. Namun penderitaan manusia tidak pernah mengenal mazhab. Air mata tidak pernah bertanya asal organisasi. Rasa takut tidak pernah memilih siapa yang layak diselamatkan.
Di tengah dunia yang semakin gaduh, mungkin yang paling dibutuhkan bukan suara yang paling keras.
Melainkan hati yang tetap hidup.
Tetap Sunni, tanpa kehilangan empati.
Tetap Aswaja, tanpa kehilangan rasa.
Kendati ada perberbedaan, tapi jangan pernah kehilangan kemanusiaan.
Karena ketika semua perdebatan selesai, yang tersisa hanya satu pertanyaan sederhana:
Apakah kita masih manusia?
— eFHa
Iran Diserang, Ukhuwah Jangan Hilang
Oleh: eFHa
Di negeri ini, perdebatan mazhab kadang lebih cepat panas daripada minyak goreng. Belum selesai satu tegukan teh, obrolan bisa berubah jadi sidang kecil: ini Sunni, itu Syiah, ini NU, itu Muhammadiyah. Seolah-olah setiap peristiwa di dunia wajib ditimbang dengan label terlebih dahulu.
Sementara itu, di belahan dunia lain, bom jatuh tanpa sempat bertanya keyakinan siapa yang akan jadi korban.
Kontras itu terasa ketika nama Iran kembali ramai dibicarakan. Televisi menampilkan peta serangan, analis bicara tentang kekuatan militer, media sosial penuh opini yang kadang lebih emosional daripada informatif. Sebagian sibuk menentukan siapa yang benar, sebagian lain sibuk memastikan siapa yang harus dibenci.
Padahal, ada sesuatu yang jauh lebih mendasar yang sering terlewat.
Bukan semua peristiwa harus dijawab dengan perdebatan. Ada momen ketika manusia cukup hadir sebagai manusia.
Mayoritas umat Islam Indonesia sebenarnya sudah menunjukkan arah yang tenang. PBNU, misalnya, tidak mengeluarkan seruan kemarahan, melainkan mengajak membaca Qunut Nazilah sebagai respon atas agresi. Sikap itu sederhana, tetapi dalam: ketika ada kezaliman, umat diajak kembali pada doa, pada empati, pada kesadaran bahwa ada nyawa yang terancam. Gus Yahya bahkan menyebut situasi ini sebagai kegagalan tata dunia yang seharusnya menjaga perdamaian.
Nada yang hampir serupa datang dari Muhammadiyah. Syafiq Mughni menegaskan bahwa perbedaan mazhab tidak boleh mematikan solidaritas kemanusiaan. Boleh berbeda dalam keyakinan, tetapi tidak boleh kehilangan kepekaan terhadap penderitaan. Bahkan dalam berbagai forum internasional, ia menyaksikan ulama Sunni dan Syiah duduk bersama, bukan untuk menyamakan semuanya, melainkan untuk mencegah umat terus terpecah.
MUI pun tidak mengambil jalur panas. Nada yang muncul justru menenangkan: umat diminta tidak terprovokasi isu sektarian, tetap berpijak pada prinsip kedaulatan dan keadilan. Kalimatnya terdengar sederhana, nyaris datar, tetapi di situlah letak kekuatannya, ia menjadi semacam pagar agar emosi tidak melampaui akal sehat.
Meski begitu, di sudut hati yang jujur, ada ruang kecil yang mungkin bertanya.
Bukan soal siapa yang lebih keras bersuara, bukan pula soal siapa yang paling cepat mengucapkan duka. Ada harapan yang diam-diam muncul, bahwa negeri ini, dengan segala pengalaman sejarahnya, mampu menunjukkan sikap yang sedikit lebih tegas. Bukan sekadar pernyataan normatif, melainkan isyarat bahwa kita benar-benar hadir sebagai bangsa yang mengerti arti kedaulatan dan keadilan, bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga di panggung dunia.
Barangkali harapan itu terlalu tinggi. Atau mungkin memang kita masih belajar menempatkan diri di antara idealisme dan diplomasi.
Dari titik itu, terlihat satu benang merah yang jarang disadari: para tokoh tidak sedang mengaburkan perbedaan, tetapi juga tidak membiarkan perbedaan menjadi alasan untuk kehilangan kemanusiaan.
Sikap seperti ini terasa sangat Indonesia, yakni: tidak selalu lantang, tidak selalu dramatis, tetapi berusaha tetap waras di tengah dunia yang sering kehilangan arah.
Kita tetap Sunni. Tetap Aswaja. Tetap memiliki batas yang jelas dalam akidah. Tidak semua bisa disamakan, tidak semua bisa dilebur. Itu bagian dari kejujuran intelektual dan spiritual.
Namun ada satu hal yang tidak boleh ikut dikaburkan.
Empati.
Sejarah ulama besar Aswaja sejak dulu tidak pernah memisahkan antara ketegasan akidah dan kelembutan hati.
Mereka bisa berbeda dalam i’tiqad, tetapi tetap berdiri bersama ketika ada kezaliman. Mereka paham bahwa membela manusia yang tertindas bukan berarti mengubah keyakinan, melainkan menjaga nilai yang diajarkan oleh keyakinan itu sendiri.
Di titik ini, Iran menjadi menarik untuk dilihat secara jernih.
Ia bukan sekadar negara Syiah. Ia adalah bangsa dengan sejarah panjang, bangsa yang ditempa perang, sanksi, dan tekanan global selama puluhan tahun.
Banyak negara akan runtuh lebih cepat dalam situasi serupa. Iran tetap bertahan, dengan segala kompleksitasnya.
Ketahanan itu bukan hanya soal senjata.
Ada mentalitas di sana.
Ada ingatan sejarah.
Ada harga diri yang tidak mudah ditukar.
Sebagian orang mungkin tidak sepakat dengan sistemnya. Itu wajar. Kritik tetap perlu. Namun menutup mata terhadap daya tahan dan keberanian sebuah bangsa juga bukan sikap yang adil.
Kita pernah berada di posisi yang tidak jauh berbeda.
Indonesia tidak merdeka karena semua orang sepakat dalam segala hal. Justru sebaliknya, kita merdeka di tengah perbedaan yang nyata. Yang menyatukan bukan keseragaman, melainkan satu kesadaran: tidak ingin hidup diinjak.
Mungkin di situlah letak pelajaran yang sering terlewat.
Persatuan tidak selalu lahir dari kesamaan. Ia sering tumbuh dari luka yang sama, dari rasa yang sama, dari keinginan yang sama untuk tetap berdiri sebagai manusia yang bermartabat.
Satu mengajak merapat, menurunkan ego kelompok, dan melihat umat sebagai satu kesatuan. Satu lagi mengangkat keberanian Iran dengan nada yang lebih emosional, bahkan heroik. Keduanya punya titik temu yang jarang disadari: sama-sama tidak ingin umat menjadi penonton yang pasif.
Saya memilih jalan yang lebih tenang.
Tidak terburu memuji.
Tidak tergesa membenci.
Tidak mudah terseret emosi.
Namun juga tidak diam ketika kemanusiaan dilukai.
Sebab pada akhirnya, ukuran paling jujur dari keberagamaan bukan seberapa keras kita membela kelompok sendiri, melainkan seberapa luas kita mampu menjaga nilai kemanusiaan.
Perbedaan mazhab akan selalu ada. Itu bagian dari sejarah umat. Namun penderitaan manusia tidak pernah mengenal mazhab.
Karena… air mata tidak pernah bertanya asal organisasi. Juga ideologi apa yang dianut. Sungguh, rasa takut tidak pernah memilih siapa yang layak diselamatkan.
Di tengah dunia yang semakin gaduh, mungkin yang paling dibutuhkan bukan suara yang paling keras.
Melainkan hati yang tetap hidup.
Tetap Sunni, tanpa kehilangan empati.
Tetap Aswaja, tanpa kehilangan rasa.
Kendati ada perberbedaan, tapi jangan pernah kehilangan kemanusiaan.
Karena ketika semua perdebatan selesai, yang tersisa hanya satu pertanyaan sederhana:
Apakah kita masih manusia?
— eFHa
