Belakangan ini, hidup tidak cukup dijalani.
Ia juga perlu ditampilkan.
Momen-momen sederhana berubah menjadi bahan unggahan.
Pencapaian terasa belum lengkap sebelum diumumkan. Kebahagiaan seolah membutuhkan saksi agar dianggap sah.
Media sosial, tanpa banyak disadari, telah menjadi panggung yang halus. Bukan sekadar tempat berbagi, melainkan ruang pembuktian.
Tidak ada yang keliru dari berbagi cerita.
Yang mulai melelahkan adalah ketika nilai diri perlahan diukur dari reaksi orang lain.
Dari jumlah yang melihat.
Dari jumlah yang menyukai.
Dari seberapa cepat orang lain mengakui.
Di titik itu, validasi berhenti menjadi pelengkap.
Ia berubah menjadi kebutuhan.
Lalu tanpa terasa, kebutuhan itu menjelma menjadi ketergantungan.
Seseorang bisa bekerja keras, tetapi merasa belum berarti jika tidak sempat diunggah.
Seseorang bisa bahagia, tetapi ragu apakah bahagianya cukup jika tidak terlihat.
Ada hal yang pelan-pelan bergeser:
hidup tidak lagi dijalani untuk dirasakan, melainkan untuk ditunjukkan.
Di sinilah ilusi mulai tumbuh… bahwasannya, apa yang ditampilkan menjadi lebih meyakinkan daripada apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang dilihat orang lain terasa lebih penting daripada apa yang dirasakan sendiri.
Layar membuat hidup tampak rapi.
Realitas seringkali tetap berantakan.
Ada cicilan yang berjalan diam-diam.
Ada rencana yang belum menemukan bentuk.
Ada lelah yang tidak pernah mendapat tempat di kolom caption.
Namun semua itu jarang ikut tampil.
Yang terlihat hanyalah potongan terbaik, disusun rapi seperti etalase.
Ironisnya, semakin rapi etalase itu, semakin besar kemungkinan ada yang disembunyikan di belakangnya.
Setengah hidup habis untuk menyenangkan orang lain. Setengah sisanya habis untuk memikirkan penilaian mereka.
Sisanya sering tercecer—tidak sempat dipakai untuk benar-benar memahami diri sendiri.
Pada fase tertentu, manusia bisa terlihat sangat hidup di luar, tetapi diam-diam kosong di dalam.
Bukan karena tidak memiliki apa-apa.
Melainkan karena terlalu lama menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Di tengah arus seperti itu, ada satu pilihan yang terasa semakin langka: menepi.
Menepi bukan tanda kalah.
Bukan pula bentuk menyerah.
Menepi adalah keberanian untuk keluar dari perlombaan yang sebenarnya tidak pernah kita pilih.
Ada masa ketika seseorang mulai mengurangi kebutuhan untuk terlihat.
Mulai lelah menjelaskan dirinya kepada dunia.
Mulai sadar bahwa tidak semua hal perlu dibuktikan.
Perlahan, ia menggeser arah.
Bukan lagi mencari siapa yang setuju.
Melainkan mencari apa yang benar.
Bukan lagi mengejar sorotan.
Melainkan merawat ketenangan.
Ada jalan yang memang tidak ramai.
Ada proses yang tumbuh tanpa tepuk tangan.
Anehnya, justru di ruang yang sunyi itu, manusia mulai merasa utuh.
Lebaran, atau jeda-jeda kecil dalam hidup, sering datang membawa isyarat yang sama: berhenti sejenak.
Bukan untuk berhenti melangkah, tetapi untuk berhenti berpura-pura.
Tidak semua pencapaian perlu diumumkan.
Tidak semua kebahagiaan harus dipamerkan.
Sebagian hal cukup dirasakan.
Sebagian lagi cukup disyukuri.
Pada akhirnya, yang membuat manusia tenang bukan pengakuan.
Melainkan penerimaan.
Bukan dari orang lain.
Dari dirinya sendiri.
Jika suatu hari hidup terasa lebih sunyi dari biasanya, mungkin itu bukan kehilangan.
Mungkin itu tanda bahwa kita akhirnya pulang. Ke diri sendiri.
— eFHa
